Artikel Terbaru

tiran <-> birokrat

1
jika tiran dan birokrat ialah sosoknya
maka tirani dan birokrasi ialah perangainya

siapa akan suka tirani
bahkan sang tiran itu pun tidak
siapa akan suka birokrasi
bahkan si birokrat itu pun tidak

siapa akan suka
sang tiran dan sibirokrat
yang angker selagi dalam kerja
adakah kerja ialah kerja juga

jika yang dicipta nilai-nilai penghancuran?
Lanjutkan →

Diskusi Kesehatan # 2

Rekan-rekan,

Kesehatan tentunya menjadi perhatian khusus dan penting bagi kita semua. Sehat yang kita dapat secara gratis, sudah semestinya kita jaga dengan baik. Jika penyakit menyerang, tidak sedikit waktu, tenaga, dan biaya yang harus kita keluarkan, bukan?

Lanjutkan →

Remaja Lendah-Brosot Menonton Remaja Indonesia

Terdengar suara cekikak cekikik tawa kecil teman-teman remaja Lendah dan Brosot  ketika sedang melihat film  berjudul “Pamali di Rumahku” karya teman-teman remaja Makasar. Film yang menceritakan kebiasaan-kebiasaan yang dianggap tidak baik di kaum remaja Makasar itu hampir sama terjadi di desa lendah. Celetup-celetup tambahan kebiasaan tabu lain masyarakat sekitar mereka juga menyeruak.  Ada juga pertanyaan “Apa sih Pamali itu?”, apakah benar akan terjadi seperti itu jika melakukannya? Apa makna dibalik ungkapan pamali itu?”.

Lanjutkan →

Oom Wim Guruku, Kawanku, dan Pamanku

Pada tanggal 27 Juli yang lalu Sekolah mBrosot menerima rombongan tamu dari Belanda, tiga generasi Keluarga Prof. W.F. Wertheim: Anne-Ruth Wertheim dan Rudi Kunzel (suami Anne-Ruth), Dorothee van Kammen, puteri Anne-Ruth – Rudi, Harry Schleijpen (suami Dorothee), dan dua buyut laki-laki Prof. Wertheim: Milan dan Ramon Schleijpen . Semuanya sangat tertarik dengan apa yang telah dan sedang terus hendak dilakukan Sekolah mBrosot, terutama Dorothee yang juga giat dalam kerja pengasuhan anak-anak di Uganda, Afrika.

Lanjutkan →

Seputar Desa Lendah – Ketoprak – Sélosumardjan

dengan salam untuk:

Barbara Hatley, Bondan Nusantara, Budi Susanto SJ

I

Di Kapanewon Lendah, Kulon Progo Yogyakarta.
Dahulu suatu ketika, di masa pemerintah Hindia Belanda dan awal pemerintah Balatentara Dai Nippon, Lendah sebuah wilayah asistenan (di jaman Nippon disebut ‘soncho’ atau kapanewon) yang termasuk dalam Kawedanaan Pengasih, dan menjadi bawahan Kabupaten (atau ‘kencho’) Kulon Progo, yang beribukota di Sentolo. Pada waktu itu seluruh daerah Kulon Progo dari wilayah Kasultanan Yogyakarta dibagi menjadi dua bagian; satu bagian adalah daerah Kabupaten Kulon Progo, dengan ibukota Sentolo, di bawah kewenangan Sultan Hamangku Buwana; dan bagian yang lain adalah daerah Kadipaten Adikarta, dengan ibukota Wates, di bawah kewenangan Adipati Paku Alam.

Lanjutkan →



Situs ini menggunakan lisensi Creative Commons Lisence BY-SA-NC.
RSS // Ruang Laba